Hidupkan Kampung Hijau Lirboyo Lewat Semangat Zero Waste dan Urban Farming
Kelompok 8 KKN-T UNP Kediri gandeng warga Lirboyo hidupkan "Kampung Hijau Zero Waste". Program ini mencakup edukasi bank sampah, penguatan bank kompos, urban farming, hingga pameran daur ulang untuk ciptakan ekonomi sirkular di tingkat kelurahan.
KEDIRI – Di tengah meningkatnya persoalan sampah perkotaan, semangat untuk mengurangi sampah perlu ditekankan mulai dari lingkup lingkungan terkecil yakni keluarga. Dengan menerapkan budaya pengelolaan sampah yang benar di lingkungan keluarga, maka jumlah sampah yang masuk TPA bisa lebih direduksi.
Ketua Kelompok 8 KKN-T Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri Ahmad Khoirul mengungkapkan bahwa persoalan sampah tidak hanya soal jumlah, tetapi juga pola pikir masyarakat. Karena itulah ia bersama kelompoknya serta warga Kelurahan Lirboyo bergerak bersama untuk mewujudkan tema yang mereka bawa yakni "Kampung Hijau Zero Waste."
“Kami ingin mengubah cara pandang, bahwa sampah bukan sekadar limbah, tapi bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat jika dikelola dengan benar,” ujarnya, Sabtu, (14/02/2026).
Langkah awal yang dilakukan adalah edukasi dan kampanye zero waste. Mahasiswa menggencarkan sosialisasi pengolahan sampah organik melalui penguatan bank kompos. Warga diajak memahami bahwa sampah dapur dapat diolah menjadi pupuk yang berguna untuk tanaman. “Konsepnya sederhana, tapi dampaknya besar. Dari rumah tangga, kita bisa mulai mengurangi sampah sekaligus mendukung penghijauan,” tambah Ahmad Khoirul.
Selain itu, pengelolaan bank sampah juga diperkuat. Sampah anorganik seperti plastik dan kertas dipilah dan ditabung, lalu hasilnya bisa dimanfaatkan menjelang hari raya. Program ini tidak hanya membangun kebiasaan memilah sampah, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Edukasi turut menyasar generasi muda. Anak-anak TK, PAUD, hingga SD di Kelurahan Lirboyo dilibatkan melalui metode kreatif seperti permainan, video animasi, dan praktik membuat kerajinan dari bahan bekas.
“Kami ingin menanamkan kebiasaan baik sejak dini, karena perubahan jangka panjang dimulai dari anak-anak,” jelasnya.
Kampanye zero waste juga diperluas melalui media visual seperti plakat, poster, flyer, hingga konten media sosial. Pesan yang diusung sederhana, yakni setiap individu memiliki peran dalam menjaga lingkungan.
Tidak hanya fokus pada sampah, program KKN ini juga mengembangkan urban farming dengan memanfaatkan lahan kosong di lingkungan kelurahan.
Pekarangan yang sebelumnya tidak digunakan kini ditanami sayur dan buah. Hasilnya tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga menjadi sumber pangan bagi warga.
Menurut Ahmad Khoirul, urban farming menjadi bagian dari upaya menciptakan siklus berkelanjutan.
“Kompos dari sampah organik kita gunakan kembali untuk tanaman. Ini contoh sederhana bagaimana ekonomi sirkular bisa diterapkan di tingkat kampung,” katanya.
Sebagai penutup, mahasiswa menggelar pameran karya daur ulang sampah. Berbagai produk kreatif dipamerkan sebagai bukti bahwa limbah memiliki nilai ekonomi dan estetika.
Berlangsung selama satu bulan, program ini diharapkan memberikan dampak positif. Terutama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pemilahan sampah, pemanfaatan pekarangan mulai berjalan, dan cara pandang terhadap sampah pun perlahan berubah.
“KKN ini bukan sekadar program akademik, tapi proses belajar bersama masyarakat. Harapannya, apa yang sudah dimulai bisa terus berlanjut dan berkembang,” tutup Ahmad Khoirul. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



