https://kediri.times.co.id/
Berita

Gentengisasi Nasional Buka Harapan Baru Pengrajin Genteng di Kediri Raya

Jumat, 06 Februari 2026 - 11:15
Program Gentengisasi Nasional Disambut Antusias Pengrajin di Karesidenan Kediri foto dokumen erajin menjemur genteng di Gulun, Magetan, Jawa Timur. (foto: ANTARA FOTO/Siswowidodo)

TIMES KEDIRI, KEDIRIProgram Gentengisasi Nasional yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto mendapat sambutan positif dari pengrajin genteng tanah liat di Karesidenan Kediri. Tiga kabupaten—Kediri, Trenggalek, dan Tulungagung—yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi genteng, melihat program tersebut sebagai peluang untuk menggerakkan kembali ekonomi lokal, melestarikan usaha turun-temurun, sekaligus mendukung kebijakan pemerintah dalam penataan lingkungan permukiman dan fasilitas publik.

Meski memiliki karakter dan tantangan berbeda, para pengrajin di tiga daerah tersebut memiliki harapan yang sama: adanya pembinaan berkelanjutan, dukungan permodalan, serta akses pasar yang lebih luas agar produksi dan daya saing genteng tanah liat dapat meningkat.

Kabupaten Kediri: Harapan Bangkit dari Industri Turun-Temurun

Di Kabupaten Kediri, program gentengisasi disambut antusias oleh ratusan pengrajin di sentra Desa Manyaran (Kecamatan Banyakan) dan Dusun Templek, Desa Gadungan (Kecamatan Puncu). Program yang bertujuan menggantikan atap seng berkarat dengan genteng tanah liat ini dinilai membuka peluang kebangkitan ekonomi, terutama setelah para perajin sempat terpukul selama pandemi Covid-19.

Pada 2025, Desa Manyaran ditetapkan sebagai sentra home industri genteng dengan 107 unit perajin. Sementara di Dusun Templek terdapat sekitar 200 perajin genteng dan 100 perajin bata merah. Saat pandemi, permintaan sempat anjlok hingga enam bulan tanpa pemasukan, dengan harga genteng turun dari Rp2.000 menjadi Rp1.000–Rp1.500 per buah.

Kini, permintaan mulai kembali stabil seiring proyek pembangunan lokal. Sejumlah perajin mampu memproduksi 500–700 genteng per hari, dengan harga berkisar Rp1.500–Rp3.000 per buah, meliputi jenis genteng press, pentul, dan mantili. Pemasaran menjangkau wilayah Blitar, Malang, hingga Surabaya.

“Pesanan dan permintaan sudah mulai lumayan banyak, tapi masih terkendala hujan,” ujar Hartini, salah satu perajin.

Proses produksi masih sangat bergantung pada cuaca. Pengeringan membutuhkan 1–2 hari saat kemarau, namun bisa mencapai satu minggu di musim hujan. Bahan baku tanah liat yang dahulu diambil dari lereng Gunung Kelud kini harus didatangkan dari luar daerah dengan biaya Rp250.000–Rp350.000 per truk. Meski demikian, genteng tanah liat dinilai lebih sejuk, kuat, dan memiliki daya tahan hingga 25 tahun.

Sejumlah perajin mulai berinovasi melalui promosi digital yang dibantu generasi muda. Pemerintah Desa Gadungan juga merencanakan integrasi industri genteng dengan pengembangan wisata edukasi di kawasan Sumber Celeng, bekerja sama dengan Perhutani, karang taruna, dan BUMDes.

Kabupaten Trenggalek: IKM Genteng Jaga Daya Saing Lokal

Di Kabupaten Trenggalek, program gentengisasi nasional turut menyulut semangat pelaku industri genteng. Hingga 2025, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja mencatat terdapat 140 Industri Kecil Menengah (IKM) genteng yang telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB).

Total investasi sektor ini mencapai Rp6,43 miliar dengan serapan tenaga kerja 226 orang. Sentra produksi terkonsentrasi di Kecamatan Gandusari dan Durenan. Untuk memperkuat identitas produk, pemerintah daerah telah mendaftarkan Merek Komunal “Nglayur” sejak 2021.

Di tengah persaingan dengan material atap modern, para perajin tetap bertahan. Produksi masih dilakukan secara manual dan sangat dipengaruhi cuaca. Dalam kondisi normal, seorang perajin dapat menghasilkan 200–300 genteng per dua hari. Harga jual yang sempat mencapai Rp2.000 per buah kini turun ke kisaran Rp1.400–Rp1.500.

Pemerintah daerah dan perajin berharap program nasional ini dapat diikuti dengan dukungan modal, pelatihan, serta kemitraan strategis agar industri genteng Trenggalek mampu tumbuh berkelanjutan.

Kabupaten Tulungagung: Targetkan Produksi dan Pasar Lebih Luas

Antusiasme serupa juga terlihat di Kabupaten Tulungagung. Para perajin yang menjadikan genteng sebagai mata pencaharian utama berharap program gentengisasi mampu meningkatkan pendapatan sekaligus kapasitas produksi.

Sentra genteng Tulungagung tersebar di beberapa kecamatan dengan tradisi produksi puluhan tahun. Sebelum adanya program ini, perajin menghadapi penurunan permintaan saat pandemi, keterbatasan modal, dan pemasaran yang masih lokal. Dengan dukungan permodalan, produksi yang sebelumnya sekitar 300–400 genteng per hari ditargetkan bisa meningkat hingga dua kali lipat.

Pemerintah daerah melalui dinas terkait telah memberikan pembinaan teknis dan manajemen usaha. Namun, perajin masih membutuhkan pendampingan lanjutan, akses pembiayaan berbunga rendah, serta teknologi produksi yang lebih modern.

Genteng tanah liat Tulungagung dikenal tahan cuaca ekstrem dan memiliki warna alami. Meski demikian, tantangan seperti ketergantungan pada cuaca, kenaikan biaya bahan baku, dan keterbatasan teknologi masih menjadi pekerjaan rumah. Para perajin berharap implementasi program gentengisasi dapat berjalan efektif dan berkelanjutan. (*)

 

Pewarta : Imam Kusnin Ahmad
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Kediri just now

Welcome to TIMES Kediri

TIMES Kediri is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.