Mahasiswa UB Kediri Dorong Mekanisasi Pertanian, Tanam Padi Pakai Rice Transplanter Lebih Efisien
Mahasiswa Universitas Brawijaya Kediri menerapkan mekanisasi pertanian menggunakan rice transplanter untuk meningkatkan efisiensi tanam padi sekaligus mendorong petani beradaptasi dengan teknologi pertanian modern.
KEDIRI – Upaya transisi menuju pertanian modern terus didorong melalui penerapan mekanisasi di sektor pertanian. Salah satunya dilakukan mahasiswa Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Kampus Kediri yang mengombinasikan metode semai padi kering dengan penggunaan mesin Rice Transplanter pada proses tanam padi.
Inovasi tersebut diterapkan mahasiswa Departemen Sosial Ekonomi Pertanian PSDKU Universitas Brawijaya Kediri pada musim tanam kali ini. Metode ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi waktu serta tenaga kerja dibandingkan metode tanam konvensional yang masih mengandalkan tenaga manusia secara manual.
Dalam praktiknya, para mahasiswa memanfaatkan mesin rice transplanter untuk memindahkan bibit padi dari persemaian ke lahan sawah. Mesin tersebut bekerja dengan sistem tanam berbaris secara otomatis sehingga jarak tanam menjadi lebih teratur dan seragam.
Dosen pendamping, Dr. Fadli Mulyadi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya perguruan tinggi dalam mendorong adopsi inovasi teknologi pertanian di tingkat petani.
“Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat melalui pendampingan teknologi mekanisasi pertanian,” tuturnya, Rabu (11/9/2026).
Menurutnya, mekanisasi yang dilakukan para mahasiswa tidak sekadar bertujuan mempercepat proses kerja, tetapi juga menjadi strategi meningkatkan daya saing sektor pertanian di era modern.
“Harapannya, penggunaan rice transplanter dapat meningkatkan efisiensi budidaya padi serta mendorong petani semakin terbuka terhadap inovasi pertanian modern,” tambahnya.
Dengan kemampuan kerja yang lebih tinggi, proses tanam yang biasanya memerlukan waktu satu hingga dua hari per hektare secara manual kini dapat diselesaikan dalam waktu jauh lebih singkat, yakni sekitar delapan jam kerja.
Selain mempercepat proses tanam, penggunaan mesin tanam padi ini juga dinilai mampu menekan biaya tenaga kerja di tengah keterbatasan buruh tani saat ini.
“Sebelumnya untuk tanam padi 1 hektare saya memerlukan kurang lebih 10 orang dengan durasi kerja dua hari sehingga biaya kerja yang saya keluarkan sekitar Rp2 juta hingga Rp2,5 juta. Sedangkan bila menggunakan mesin tanam ini hanya perlu dua operator dan selesai sehari dengan ongkos sekitar Rp500 ribu. Hal ini jauh lebih hemat,” ujar Djasmani, salah satu petani di Kelurahan Mrican.
Efisiensi tersebut menjadi salah satu solusi strategis untuk menghadapi tantangan regenerasi petani serta meningkatnya biaya produksi. Selain itu, pola tanam yang mengikuti acuan ilmiah juga berpotensi meningkatkan pertumbuhan tanaman karena distribusi penyinaran matahari, unsur hara, serta ruang tumbuh menjadi lebih optimal.
Meski demikian, implementasi mekanisasi tetap memerlukan kesiapan lahan yang mendukung, seperti pengolahan tanah yang merata serta kondisi lahan yang sesuai agar mesin dapat beroperasi secara optimal.
Dengan semakin luasnya penggunaan rice transplanter, diharapkan transformasi menuju pertanian yang lebih modern, produktif, dan efisien dapat terus berkembang di kalangan petani Indonesia (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


