TIMES KEDIRI, CIANJUR – Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, kembali memperkenalkan kekayaan sejarahnya yang luar biasa melalui keberadaan Punden Berundak Situs Kuta Tanggeuhan sebagai Cagar Budaya sejak 2025.
Terletak tersembunyi di lereng Gunung Pasir Banen atau yang lebih dikenal dengan Gunung Halimun, situs ini menyimpan jejak peradaban lama yang masih sangat murni dan jarang tersentuh oleh khalayak luas.
Struktur batuan andesit yang tersusun rapi secara bertingkat ini diyakini merupakan ruang sakral bagi masyarakat masa lampau sebagai lokasi ritual suci, penghormatan kepada arwah leluhur, hingga tempat pemakaman kuno penuh makna.
Sejarah mencatat bahwa penemuan kembali lokasi bersejarah ini berawal dari penelusuran Ali Usman bersama Herman Suherman pada Mei 2017 silam di kawasan Bukit Lemo.
Melansir dari akun media sosial Instagram @disbudpar.cianjur bahwa sebelum dikenal secara resmi, masyarakat sekitar lebih akrab menyebut susunan batu yang menyerupai makam tersebut dengan nama Makam Tujuh Belas.
Penamaan Kuta Tanggeuhan sendiri memiliki arti yang mendalam secara bahasa, di mana Kuta berarti benteng atau dinding, sementara Tanggeuhan bermakna berdiri miring atau tempat bersandar.
"Secara kiasan, nama ini merujuk pada sosok atau tempat yang menjadi tumpuan harapan serta perlindungan bagi warga," unggah akun tersebut dikutip TIMES Indonesia, Jumat (23/1/2026).
Karakteristik fisik situs ini sangat unik karena menggunakan lempengan batu andesit yang ditegakkan atau dimiringkan hingga membentuk dinding pembatas yang kokoh.
Kuta Tanggeuhan menjadi bukti otentik bahwa masyarakat Sunda pada periode prasejarah telah memiliki kemampuan teknis yang sangat tinggi dalam menata lanskap perbukitan menjadi ruang ritual yang terstruktur dengan baik.
Fenomena ini sejalan dengan konsep tradisi yang terus hidup dalam antropologi budaya, karena punden berundak ini bukan sekadar peninggalan mati melainkan ruang yang maknanya terus diproduksi oleh generasi baru.
Lebih lanjut keunikan arsitektur batu andesit ini kini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang memiliki minat khusus pada wisata budaya dan sejarah.
Struktur bangunan yang terdiri dari beberapa teras ini menawarkan pemandangan geometris yang memukau di tengah suasana hutan yang asri dan tenang.
Pemerintah daerah berharap keberadaan situs ini dapat menjadi motor penggerak potensi wisata baru di Cianjur sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga warisan leluhur.
"Dengan statusnya sebagai cagar budaya, Kuta Tanggeuhan diharapkan tetap lestari sebagai saksi bisu kemajuan peradaban manusia di tanah Pasundan," tandasnya. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Menengok Megahnya Situs Kuta Tanggeuhan, Jejak Peradaban Prasejarah di Cianjur
| Pewarta | : Wandi Ruswannur |
| Editor | : Ronny Wicaksono |